Generation Gap: Gaya Pengelolaan Keuangan Milenial dan Gen Z

0
9848
pengelolaan keuangan milenial dan gen z

Bukan kabar baru sebenarnya apabila generasi milenial dan generasi Z, yang kini semakin banyak mendominasi dunia kerja, memiliki gaya pengelolaan keuangan yang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Hasil riset yang telah dirilis Tirto pada Juli 2019 memperlihatkan, generasi milenial cenderung lebih boros, sulit menabung dan tidak terlalu mempedulikan kebutuhan investasi hari depan. Alhasil, generasi milenial dan generasi Z ditengarai menghadapi risiko finansial lebih besar di masa mendatang akibat gaya pengelolaan keuangan milenial dan gen Z yang kurang sehat.

Bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya, yaitu baby boomers dan generasi X, terlihat ada generation gap yang membedakan karakteristik dan gaya hidup masing-masing generasi. Perbedaan itu tidak terlepas dari karakteristik umum generasi milenial dan generasi Z yang cenderung lebih dinamis, kreatif, melek teknologi dan pragmatis. Berkebalikan dengan baby boomers dan generasi X yang relatif lebih idealis dan konservatif, termasuk dalam pengelolaan keuangan. Berikut kamu bahas gaya pengelolaan keuangan milenial dan Gen Z.

YOLO dan FOMO: Mantra generasi kekinian

Mungkin Anda sudah sering mendengar dua istilah tersebut. Dua istilah itu ngetren dan seolah menjadi mantra utama generasi muda saat ini. YOLO merupakan singkatan dari prinsip you only live once, yang secara sederhana berarti, nikmatilah hidup saat ini tanpa perlu mengkhawatirkan masa depan. Sedangkan FOMO adalah singkatan dari fear of missing out alias ketakutan ketinggalan tren yang tengah berlangsung di komunitas atau peer group di mana generasi Y dan Z tergabung di dalamnya.

Dua pandangan itu sedikit banyak banyak mempengaruhi pola konsumsi generasi milenial dan Z. Sebagai contoh, pandangan YOLO mungkin mendorong Anda untuk memilih menghabiskan pendapatan untuk membiayai liburan ke tempat eksotis, ketimbang menyisihkan sebagian untuk bekal dana pensiun. Masa pensiun dinilai masih terlalu jauh untuk dipikirkan. Sedangkan liburan ke tempat eksotis memberikan pengalaman instan yang menyenangkan dan bisa langsung Anda bagikan melalui akun media sosial.

Begitu pun FOMO yang tanpa disadari mendorong Anda rela mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, tapi penting dimiliki agar tidak dianggap ketinggalan tren. Misalnya, berburu sneaker bermerek, gadget paling wah dan canggih dan lain sebagainya. Di Amerika Serikat, fenomena FOMO bahkan mengungkap keberanian anak milenial dan generasi Z berurusan dengan utang. Riset yang dirilis oleh Credit Karma pada tahun 2018 lalu menyebut, 39% anak muda rela berutang agar bisa mengikuti tren yang tengah berlangsung di komunitasnya.

Bagaimana sebenarnya gaya pengelolaan keuangan milenial dan gen Z? Bila Anda termasuk generasi ini, sebaiknya mulai sekarang memberi perhatian lebih serius pada manajemen keuangan yang sehat.

Pengelolaan Keuangan Milenial dan Gen Z

Pola konsumsi dan pengelolaan keuangan

Kebutuhan untuk menikmati pengalaman (experiences spending) melalui traveling, kuliner, hangout selepas jam kerja, menonton konser artis idola atau membeli barang yang tengah tren, seringkali menjebak generasi Y dan Z dalam pola konsumsi yang boros. Sah-sah saja bila Anda ingin memperkaya pengalaman melalui berbagai aksi konsumsi tersebut. Hanya saja, supaya keuangan Anda tetap sehat, upayakan untuk menyiapkan alokasi khusus untuk pos pengeluaran yang sifatnya tersier.

Misalnya, dari 100% pendapatan, Anda bisa menyisihkan 5%-10% untuk kebutuhan dana pos tersebut. Dengan begitu, pos anggaran lain yang lebih penting dan mendesak, tidak perlu terganggu. Seperti pos dana darurat, pembayaran premi asuransi dan pos pengeluaran investasi untuk masa depan.

Menabung

Generasi Y dan Z memahami pentingnya menabung, tapi hanya sedikit pendapatan yang disisihkan sebagai tabungan. Riset yang dirilis oleh Alvara Research tahun 2017, mengungkapkan, tabungan adalah produk keuangan yang paling diingat oleh generasi muda kini. Namun, menurut riset IDN Research Institute pada tahun 2019, ternyata hanya 10,17% dari pendapatan yang disisihkan oleh generasi milenial sebagai tabungan.

BACA JUGA: Mengapa Milenial Harus Menabung sejak Mulai Bekerja?

Menyisihkan pendapatan merupakan bagian penting untuk membangun keuangan sehat. Misalnya, untuk membangun kecukupan dana darurat atau emergency fund dan mengantisipasi kebutuhan hari depan seperti dana pembelian rumah, dana pensiun, dana sekolah anak dan sebagainya. Untuk dana darurat, sebaiknya Anda memilih menempatkannya di instrumen yang likuid seperti tabungan, deposito, reksa dana pasar uang. Sedang untuk antisipasi kebutuhan dalam jangka panjang, instrumen investasi lebih tepat menjadi pilihan. Seperti reksa dana atau saham.

pengelolaan keuangan milenial

Investasi

Hasil riset “The Future of Money” oleh Luno bekerjasama dengan Dalia Research, terungkap bahwa 69% generasi milenial di Indonesia tidak memiliki strategi investasi. Lalu, menurut riset Tirto pada Juli 2019, sebanyak 44% generasi milenial hanya berinvestasi sekali dalam satu atau dua tahun dan 20% di antaranya tidak memiliki investasi apapun.

BACA JUGA: Ingin Memulai Investasi? Perhatikan Ini

Di sisi lain, karakter generasi muda yang digital savvy dan menyukai hasil instan, membuatnya lebih berani mengambil risiko berinvestasi di instrumen berisiko tinggi yang didukung kecanggihan teknologi. Misalnya, memutar uang di aplikasi peer-to-peer lending (P2P lending) atau investasi saham melalui gadget. Ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih konservatif dan memilih berinvestasi di produk yang risikonya relatif rendah seperti deposito atau emas.

Investasi memang sangat penting dilakukan untuk melawan risiko penurunan nilai uang dalam jangka panjang akibat inflasi. Akan tetapi, pastikan Anda berinvestasi dengan menimbang besar kecil risiko dan kesesuaian dengan tujuan keuangan. Misalnya, untuk investasi jangka pendek di bawah tiga tahun, Anda bisa memilih reksa dana pendapatan tetap. Sedang untuk investasi jangka panjang, reksa dana saham atau campuran bisa menjadi pilihan. Jangan lupa pula mendiversifikasi portofolio di berbagai keranjang investasi supaya risiko kerugian bisa ditekan.

Rumah

Hasil studi The Urban Institute pada 2018 mengungkapkan, baru 37% dari generasi milenial di Amerika Serikat berusia 25-34 tahun yang memiliki rumah. Bandingkan dengan baby boomers yang mencapai 45% di rentang usia sama. Di Indonesia, fenomena yang sama juga terjadi. Studi yang dirilis oleh  IDN Research Institute tahun 2019 mengungkapkan baru 35,1% milenial Indonesia yang memiliki rumah. Salah satu penyebabnya adalah, kenaikan harga rumah jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan upah ditambah tingkat pengeluaran konsumtif generasi milenial yang terbilang tinggi.

BACA JUGA: Bingung Pilih Rumah atau Apartemen? Simak Pertimbangan Penting Ini

Rumah tinggal adalah salah satu kebutuhan primer yang cepat atau lambat harus Anda penuhi, terlebih bila Anda memiliki keluarga. Supaya bisa mengejar kenaikan harga rumah, Anda perlu mengatur keuangan supaya bisa menyiapkan dana pembelian rumah. Sisihkan sebagian pendapatan untuk dana uang muka kredit pemilikan rumah (KPR). Kurangi pengeluaran konsumtif yang sifatnya tersier sehingga dana pembelian rumah lebih cepat terkumpul.

Bekal pensiun

Sebanyak 3 dari 10 milenial di Asia terancam kekurangan uang di masa pensiun dan 4 dari 10 masih akan terbebani utang KPR sampai masa pensiun. Itulah hasil studi sebuah perusahaan asuransi seperti dikutipTirtoFebruari 2017. Masa pensiun memang terasa masih jauh. Bila Anda saat ini termasuk generasi Z berusia kepala dua, Anda masih memiliki waktu setidaknya 30 tahun untuk mencapai masa pensiun.

BACA JUGA: Alasan Pentingnya Persiapkan Dana Darurat Pribadi Sejak Muda

Supaya risiko miskin di masa pensiun bisa dikurangi, mulailah mempersiapkan kebutuhan dananya sejak dini. Caranya, sisihkan minimal 10%-15% dari pendapatan rutin Anda sebagai tabungan pensiun. Karena target pemakaian dana masih lama, Anda bisa berinvestasi di instrumen yang agresif seperti saham. Bila Anda berstatus karyawan, perusahaan wajib mengikutsertakan Anda dalam kepesertaan program Jaminan Hari Tua (JHT) BPJS Ketenagakerjaan. Anda juga bisa mengikuti program pensiun pribadi melalui produk DPLK yang banyak ditawarkan oleh perusahaan investasi dan perbankan.

Jadi, siapa bilang generasi milenial dan generasi Z tidak bisa kelola keuangan? Dengan mengikuti prinsip pengelolaan keuangan milenial dan Gen Z yang sehat, Anda bisa menciptakan kemapanan finansial mulai sekarang!