Ingin Kembali Bekerja Saat Anak Mulai Besar, Perhatikan 4 Hal Ini

0
4666
ibu bekerja

Tidak sedikit para ibu yang sebelumnya berkarir di luar rumah, memutuskan berhenti bekerja begitu memiliki anak. Sebagian besar ibu memilih berkonsentrasi menjalankan peran di ranah domestik setidaknya sampai anak-anak mereka cukup umur. Ketika anak-anak mulai menginjak usia prasekolah, tidak sedikit dari kaum hawa yang terpikir untuk bekerja lagi. Apakah termasuk Anda?

Keinginan untuk kembali bekerja adalah wajar. Beberapa ibu mungkin ingin mengaktualisasikan diri, ingin meningkatkan finansial keluarga, atau mendapatkan penawaran pekerjaan yang menarik. Apapun alasan yang dimiliki seorang ibu saat menimbang keinginan kembali bekerja, pada dasarnya keputusan tersebut akan menjadi keputusan yang besar. Karenanya, pikirkan dahulu beberapa hal di bawah ini sebelum mengambil keputusan.

1. Penawaran gaji

Indonesia termasuk salah satu negara di dunia di mana para perempuan mendapatkan kesempatan yang luas untuk berkarier. Mengutip survei Grant Thornton yang dikutip oleh CNN Indonesia, Indonesia termasuk dalam 10 besar negara di dunia untuk jumlah perempuan di posisi manajemen senior perusahaan. Tepatnya di posisi 6 di antara negara-negara di dunia.

Tercatat oleh survei tersebut, kaum hawa di Indonesia menempati setidaknya 36% posisi senior di perusahaan-perusahaan. Itu menunjukkan kesempatan berkarya di Indonesia bagi para perempuan termasuk yang sudah berstatus sebagai ibu, terbuka lebar. Hal itu juga berarti, apabila Anda ingin kembali ke ranah publik untuk bekerja, kesempatan untuk berdaya secara finansial juga cukup besar. Efeknya tentu bisa sangat baik bagi kondisi keuangan keluarga.

Baca juga: Cara Mudah Mengajarkan Anak tentang Uang Sesuai Tahap Usia

Meski begitu, sebaiknya Anda menyisihkan waktu khusus untuk menghitung secara rasional. Walau bekerja memang tidak semata untuk mengejar kecukupan finansial, tetap pastikan bahwa keputusan bekerja lagi tersebut akan membawa efek yang positif bagi keuangan pribadi maupun keluarga. Ini karena yang akan Anda “pertukarkan” adalah waktu untuk keluarga.

Paling tidak yang perlu dihitung adalah tingkat penawaran gaji. Jadi, ketahui terlebih dulu, berapa sihtingkat gaji untuk pekerjaan yang Anda incar tersebut. Begitu juga tunjangan-tunjangan yang Anda harapkan.

2. Pos pengeluaran baru

Saat ibu memutuskan bekerja lagi, akan lahir beberapa pos pengeluaran baru yang mungkin sebelumnya tidak ada. Lebih baik daftarlah lebih dulu apa saja kira-kira pos pengeluaran baru yang akan muncul. Sebagai gambaran, yang pertama kali mengemuka adalah pos biaya tenaga pengasuh anak alias babysitterapabila Anda berniat memakai jasa mereka. Atau, bisa juga pos biaya jasa tempat penitipan anak atau daycare.

Bila kita memakai jasa pengasuh anak terlatih yang direkomendasikan oleh yayasan penyalur, tarif jasanya kemungkinan lebih mahal dibanding merekrut pengasuh anak secara mandiri atau melalui makelar biasa. Ada biaya-biaya baru yang menyertai perekrutan tenaga pengasuh anak. Mulai dari biaya jasa ke yayasan atau makelar, biaya pembelian seragam, biaya kebutuhan sehari-hari babysitter, dan lain sebagainya.

Begitupun bila kita memutuskan memilih daycare. Biaya bulanan daycare bisa bervariasi tergantung dari lokasi daycare, kualitas layanan yang dijanjikan. Belum lagi biaya uang pangkal atau pendaftaran daycare. Tarif tempat penitipan anak di tengah kota yang dekat dengan pusat bisnis atau industri sudah pasti lebih mahal dibandingkan dengan yang berlokasi di pinggiran kota. Begitu juga jenis layanan. Ada daycare yang sekaligus menerapkan kurikulum layaknya playgroup atau taman kanak-kanak, ada juga yang sekadar menjadi tempat penitipan anak biasa.

Daftarlah pos-pos biaya baru tersebut, buatlah opsi-opsi dan hitunglah kisaran biayanya. Yang terpenting, sesuaikan dengan kemampuan budget juga.

Baca juga: Memiliki Rumah Sendiri sebelum 30 Tahun Lewat 6 Langkah Ini

3. Alokasi waktu dan energi

Menjalankan peran ganda sebagai ibu sekaligus wanita bekerja bukanlah sesuatu yang mudah. Sebelum memutuskan menjadi ibu bekerja, sadari konsekuensi bahwa pilihan tersebut akan banyak mengubah hidup. Seorang ibu bekerja dituntut lebih cerdik mengatur waktu dan energi supaya semua tugas dan peran yang harus dia jalankan bisa dilakukan dengan baik.

Misalnya dari tugas hidup sehari-hari seperti memasak, memandikan si kecil, mengantar si kecil ke sekolah, menemani bermain, dan lain sebagainya. Dengan bekerja, paling tidak setiap hari Anda meninggalkan anak-anak sekitar 8-10 jam. Energi ibu bekerja tidak hanya akan terkuras oleh pekerjaan di kantor semata karena begitu dia sampai di rumah, tugas domestik rumah tangga dan peran sebagai ibu akan terus menuntut. Bila kurang cermat mengelola waktu juga energi, ibu bekerja akan rentan stres.

Trik mengatasinya adalah menerapkan kerjasama yang baik dengan sistem pendukung yang dimiliki, mulai dari pasangan, tenaga babysitter atau daycare juga tempat Anda bekerja kelak. Misalnya, pada pagi hari sempatkan memasak untuk keluarga. Bisa juga dengan menyempatkan memandikan anak atau mengantar anak ke sekolah. Sepulang bekerja, Anda masih bisa menyempatkan membacakan buku pengantar tidur untuk anak sehingga ikatan dengan anak-anak masih terus terjaga kendati si ibu bekerja.

Baca juga: Suami Istri Sama-sama Bekerja, Perlukah Asuransi Jiwa Dua-duanya?

4. Komunikasikan selalu dengan pasangan

Ini menjadi poin yang sangat penting karena bagaimanapun pasangan adalah support system utama si ibu bekerja. Komunikasikan selalu dengan pasangan bagaimana Anda akan menjalankan dua peran tersebut dan sampaikan permintaan dukungan supaya semua bisa berjalan dengan baik. Bagaimanapun, anak-anak adalah tanggung jawab berdua, bukan hanya tanggung jawab ibu saja.

Misalnya, bila kelak si ibu harus dinas ke luar kota untuk urusan pekerjaan, ayah mungkin perlu turun tangan agar kebutuhan anak akan kehadiran orang tua secara fisik tetap terpenuhi.

Dengan menimbang empat hal tersebut, semoga keputusan Anda kembali bekerja dengan status working mom bisa menjadi keputusan terbaik. Semangat!