Memutus Rantai Generasi Sandwich dengan 5 Langkah Mudah

0
3377
generasi sandwich

Pernah dengar istilah “generasi sandwich”? Ini adalah salah satu istilah yang populer dalam pembahasan tentang keuangan pribadi untuk menyebut kondisi seseorang yang terjepit dua hal, yaitu menghidupi dirinya sendiri dan keluarga kecil, sekaligus menghidupi generasi di atasnya seperti orangtua atau kerabat yang lebih tua.

Kondisi terjepit (sandwiched) ini melahirkan beban finansial yang cukup berat. Banyak di antaranya yang akhirnya tidak mampu menyiapkan kebutuhan pensiun yang memadai kelak sehingga akhirnya di masa tua pun menjadi beban finansial anak mereka. Akhirnya, lingkaran generasi sandwich pun berulang. Maka itu, penting bagi anak muda untuk dapat memutus lingkaran tersebut. Bagaimana caranya?

1. Siapkan dana pensiun dengan berinvestasi

Masih muda masak harus memikirkan pensiun? Mungkin itu pertanyaan banyak para pekerja muda yang merasa masa pensiun terlalu jauh untuk dipikirkan apalagi disiapkan. Tapi, tahukah Anda bahwa semakin dini kita menyiapkan kebutuhan pensiun maka usaha pengumpulan dananya akan terasa lebih ringan? Agar lebih jelas, mari lihat simulasi berikut.

Anggap saja Anda saat ini baru berusia 25 tahun, sudah bekerja dan memiliki penghasilan lumayan dan berencana pensiun alias tidak lagi produktif secara finansial pada usia 60 tahun dan asumsi usia harapan hidup hingga 70 tahun. Ini berarti Anda memiliki waktu sekitar 35 tahun untuk menyiapkan kebutuhan selama pensiun hingga saatnya menutup usia kelak.

Baca juga: 6 Jebakan Gaya Hidup yang Membahayakan Kantong Milennial

Saat ini, pengeluaran rata-rata Anda per bulan mencapai Rp5 juta. Dengan asumsi tidak ada penyesuaian gaya hidup saat pensiun, maka total kebutuhan dana pensiun Anda 35 tahun lagi mencapai Rp15,27 miliar. Ini dengan mengasumsikan inflasi kenaikan biaya hidup mencapai 10% per tahun.

Bagaimana caranya mengumpulkan dana sebesar itu? Yang pasti tidak bisa sekadar menabung secara konvensional di produk tabungan. Carilah instrumen investasi yang mampu tumbuh melampaui inflasi. Misalnya dengan berinvestasi di produk keuangan seperti saham, reksa dana, dan sebagainya, yang berpeluang tumbuh nilainya di atas 10% atau di atas laju inflasi.

Sebagai contoh, bila Anda menginvestasikan dana di produk investasi yang mampu tumbuh 20% per tahun, maka target dana sebesar Rp15,27 miliar tersebut bisa tercapai dengan berinvestasi rutin sebesar Rp359.665 per bulan selama 35 tahun.

Nah, bila Anda menunda menyiapkan dana pensiun, katakanlah baru berinvestasi di usia 35 tahun, maka sisa waktu persiapan kebutuhan biaya pensiun tinggal 25 tahun. Untuk mencapai target dana yang sama, Anda harus berinvestasi lebih besar yaitu mencapai Rp2,24 juta per bulan selama 25 tahun. Jadi, semakin awal kita menginvestasikan penghasilan untuk mengejar target dana pensiun, semakin ringan pula dana yang perlu kita sisihkan.

Dengan memiliki bekal dana sendiri saat pensiun kelak, Anda tidak perlu lagi membebani anak-anak Anda kelak untuk membiayai masa tua. Rantai generasi sandwich pun bisa terputus di sini.

2. Melengkapi kebutuhan proteksi kesehatan

Ketika memasuki usia pensiun, risiko kesehatan akan semakin meningkat seiring kondisi tubuh yang kian menua. Di saat yang sama, kenaikan biaya kesehatan terbilang cukup kencang. Banyak generasi sandwichyang “terpaksa” menanggung biaya kesehatan para orangtua mereka sehingga beban finansial menjadi cukup besar.

Supaya siklus generasi sandwich itu tidak berulang, Anda bisa mengupayakannya dengan menjaga kesehatan sebaik mungkin sehingga risiko sakit bisa diminimalisir. Misalnya, membiasakan diri menerapkan gaya hidup sehat, rajin berolahraga, menghindari stres, dan lain sebagainya.

Baca juga: Asuransi untuk Lajang, Yay or Nay?

Risiko finansial yang timbul akibat kondisi sakit juga bisa Anda kelola dengan lebih mudah dengan melengkapi kebutuhan atas proteksi kesehatan. Membeli polis asuransi kesehatan bisa Anda lakukan jauh-jauh hari sebelum masa pensiun. Saat ini, sudah banyak penyedia produk asuransi kesehatan yang menawarkan layanan dengan premi terjangkau. Anda bisa alokasikan setidaknya 10% dari total pendapatan rutin untuk memenuhi kebutuhan proteksi.

3. Beli asuransi jiwa saat punya tanggungan

Jangan lupa memenuhi kebutuhan asuransi jiwa ya. Dengan memiliki asuransi jiwa, dampak finansial yang ditanggung oleh keluarga saat pencari nafkah meninggal dunia, bisa diperkecil. Uang pertanggungan yang akan keluar dari polis asuransi jiwa bisa menjadi bekal bagi keluarga yang ditinggalkan untuk melanjutkan hidup. Kini di tengah semakin banyaknya pilihan produk asuransi, Anda bisa semakin mudah mendapatkan produk asuransi jiwa dengan jumlah uang pertanggungan sesuai kebutuhan.

4. Berhati-hati terhadap utang

Ketika masih di tahap awal-awal membangun karir, seorang pekerja muda mungkin akan banyak menghadapi banyak penawaran utang. Mulai dari penawaran kartu kredit untuk mempermudah transaksi sampai utang-utang dengan nominal lebih besar untuk pembelian barang yang lebih mahal seperti rumah atau mobil.

Nah, supaya keuangan pribadi tidak mudah terguncang karena beban utang, sedari muda biasakan untuk berhati-hati sebelum memutuskan berutang. Pemakaian kartu kredit misalnya, biasakan untuk membayar penuh tagihan dan memakainya untuk mendukung efektivitas transaksi saja.

Baca juga: Memiliki Rumah Sendiri Sebelum Usia 30 Tahun

Sedangkan saat mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), pilihlah tenor atau periode kredit yang tidak terlalu lama. Selain menghindari beban bunga yang lebih mahal, tenor yang terlalu lama bisa menganggu masa pensiun kelak. Batasi saja tenor pemilihan KPR, misalnya, maksimal 10 tahun atau 15 tahun dengan memiliki persiapan pelunasan lebih awal. Dengan begitu, ketika usia Anda memasuki masa puncak produktivitas di usia 40-an tahun dan ketika masa pensiun semakin dekat, keuangan Anda tidak lagi terbebani utang berjumlah besar seperti KPR.

5. Membiasakan pengelolaan keuangan yang sehat

Kebiasaan keuangan yang baik akan memudahkan kita untuk menjalankan berbagai rencana keuangan penting seperti persiapan dana pensiun. Apa saja itu? Mulai dari hal yang sederhana. Misalnya, membiasakan diri berinvestasi, menghindari utang konsumtif, menjadi wise spender, menghindari perilaku “besar pasak daripada tiang”, rutin mengevaluasi keuangan pribadi, dan lain sebagainya.

Dengan lima langkah mudah di atas, Anda bisa mempersiapkan diri dengan baik agar di masa tua kelak tidak sampai menjadi beban finansial keluarga. Alhasil, rantai generasi sandwich pun bisa terputus. Yuk, mulai sekarang!

Credit photos: Pinterest